Mustofa sang Tokoh Penggerak Padi Organik Kab Semarang

November 08, 2011  |  Author: mustofa

MUSTOFA

CALON PENERIMA ADHIKARYA PANGAN NUSANTARA

TAHUN 2011

UNTUK KATEGORI PELOPOR KETAHANAN PANGAN

 

 

Yang bertanda tangan dibawah ini :

 

A.  IDENTITAS PENGUSUL

 

1.   Nama/Kelompok      :

2.   Alamat lengkap        :

Dengan ini mengusulkan

1.   Nama/Kelompok                                                      : Drs. Mustofa/

Al-Barokah

2.   Prestasi dalam bidang ketahanan pangan         : Tingkat nasional

3.   Alamat                                                                        : Desa Ketapang

Kec. Susukan

Kab. Semarang

Jawa Tengah

Sebagai calon penerima Adhikarya Pangan Nusantara

tahun 2011

 

 

B.  DASAR PENGUSULAN

     

      Dasar pengusulan masing-masing calon penerima Adhikarya Pangan Nusantara untuk Kategori Pelopor sesuai dengan outline profil pengajuan yang ditetapkan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

 

Semarang,   Juni 2011

                                                                                                Yang mengusulkan,

 

 

(Ir Samsul Hidayat)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

C.  OUTLINE PROFIL PENGAJUAN KATEGORI PELOPOR

I.    PROFIL CALON PENERIMA ADHIKARYA PANGAN NUSANTARA

  1. Nama/Ketua Kelompok             : Drs. Mustofa /Al-Barokah
  2. Pendidikan                                 : S1
  3. Riwayat Keberhasilan              :
  • Tahun 1997 bersama petani merintis membentuk kelompok tani
  • Tahun 1998 membentuk kelompok tani di masing-masing dusun dalam satu desa.
  • Tahun 2000 bersama para petani dan stake holder mengadakan SP (Strategik Planning) /renstra petani serta pemilu petani secara langsung untuk memilih ketua, yang difasilitasi SPPQT
  • Tahun 2000 s/d 2008 melalui pemilihan langsung terpilih menjadi ketua pelaksana di Al-Barokah selama 2 (dua) periode I tahun 2000-2004 dan kedua tahun 2004-2008.
  • Mulai tahun 2000 menjalankan program hasil SP dengan program unggulannya Pertanian Budidaya Padi Organik (IOF=Integrated Organic Farming)
  • Tahun 2002 menghasilkan beras organik sesuai hasil uji laboratorium kandungan residu dan vitamin no reg. di Balitbio IPB Bogor  dan kerjasama pemasaran (agribisnis) dengan PT Indorice Jakarta
  • Mulai tahun 2002 hingga 2008 mendapat beberapa piagam penghargaan dari pemerintah dan lembaga swadaya lainnya (terlampir)
  • Mulai tahun 2007 sebagai BDS (Bisnis Development Service)Klaster Pertanian Organik Kab Semarang.
  • Sejak 2004 hingga sekarang sebagai narasumber tehnologi pertanian organik (succes story) Agribisnis beras organik
  1. Tanda Jasa yang di terima (copy bukti terlampir)
  • Piagam Penghargaan dari Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan sebagai Juara Harapan II dalam lomba Verivikasi Agribisnis Tanaman Padi Tingkat Propinsi Jaawa Tengah tertanggal 20 Agustus 2002.
  • Piagam Penghargaan dari Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan sebagai Juara Harapan I dalam lomba Verivikasi Agribisnis Tanaman Padi Tingkat Propinsi Jaawa Tengah tertanggal 5 Agustus 2003.
  • Piagam Penghargaan Bupati Semarang tentang Pengukuhan Kelompok Tani Utama dari Tim Verivikasi Kelompok Tani Dinas Pertanian Kab. Semarang tanggal 7 Oktober 2003
  • Piagam Penghargaan Bupati Semarang sebagai juara dalam verivikasi Agribisnis Tanaman Padi Tingkat Kabupaten Semarang tahun 2004
  • Piagam Penghargaan dari Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan sebagai Juara I dalam Pengembangan Agribisnis Padi Tingkat Propinsi Jaawa Tengah tertanggal 14 Juli 2004.
  • Piagam Penghargaan dari Bupati Semarang sebagai juara dalam verivikasi Agribisnis Tanaman Padi Organik Berprestasi tanggal 24 September 2004
  • Piagam Penghargaan Tingkat Nasional dari Presiden RI dan menteri PertanianRI atas prestasinya dalam upaya Pengembangan Ketahanan Pangan melalui Pengembangan Agribisnis Pangan tanggal 9 Desember 2004 di Istana Negara
  • Piagam Penghargaan dari Gubernur Jawa Tengah tentang SATYA BAKTI UPA KRIDA Pertanian Organik tahun 2008

 

 

 

I

PENDAHULUAN

  1. A.   Latar Belakang

Pangan hingga kini masih sebagai salah satu soko guru kehidupan manusia dan makluq di muka bumi ini maka perlu dilestarikan, dikelola dengan prinsip-prinsip kearifan lokal.

Petani sebagai tulang punggung penghasil pangan (baik beras maupun non beras = makanan lokal) guna menopang jalannya kehidupan manusia dan semua mahkluq di bumi ini sudah selayaknya memperjuangkan keberadaannya baik secara struktural maupun kultural sehingga segera tercipta peradaban baru yang lebih manusiawi. Kemudian dari pada itu, untuk menjamin ketersediaan pangan bagi seluruh mahkluq perlu adanya kerjasama yang saling mengntungkan dan memnjunjung tinggi nilai dan prinsip kearifan lingkungan pedesaan, yang telah dibentuk dan dilestarikan oleh tokoh-tokoh kemasyarakatan desa tempo dulu, yangselama ini makin lama semakin menghilang.

Desasalahsatupemegangkekuatanterbesarpenghasilpangandimukabumiini, danlayak sebagai pusatpembangunan(central development).Pemerintah desa dan tokoh masyarakat sebagaiimplementator kekuasaanmasyarakat lokal yang paling riil, menjadipilarutamadarigerakandalam penguatanlumbungpangan, sehingga mampu menumbuh kembangkan pilar ketahanan pangan yang mencakup aspek ketersediaan, distribusi, dan konsumsi. Salah satu hal yang tidak kalah penting adalah upaya menumbuhkan pemahaman dan kesadaran akan pentingnya pembaharuan sistem pangan komunitas utamanya bagi aktor-aktor pelopor penggerak masyarakat desa, sehingga kedepan kelayakan kehidupan mahkluq dimuka bumi ini terjaga dan lebih implisit kesejahteraan masyarakat desa dengan kulturnya tidak tercerabut dari akarnya.

Berangkat dari kebutuhan dan ketersediaan pangan saat ini, merasa sangat berkepentingan untuk menfasilitasi bahwa petani dan masyarakat desa penghasil pangan sudah saatnya untuk duduk mempunyai kedaulatan atas pangannya dan pangan seluruh umat manusia.

 

  1. B.   Tujuan

Secaraumumbertujuanmewujudkan pilar ketahanan pangan yang mencakup aspek ketersediaan, distribusi, dan konsumsi disamping memfasilitasi dan mendorong terwujudnya pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang danaman yang diindikasikan oleh skor Pola Pangan Harapan (PPH) 95 padatahun 2015.

Secara khusus bahwa pembangunan,pembaharuan dan penguatan pangan masyarakat sebagai pilar ketahanan pangan yang mencakup aspek ketersediaan, distribusi, dan konsumsidiantaranya adalah dengan

  • Memfasilitasi, membangun dan menempatkan masyarakat desa (petani) sebagai produk, lumbung, dan arus pangan bagi kehidupan manusia dan seluruh mahkluq.
  • Mendesakkan dan membiasakan pada masyarakat bahwa konsumsi makanan (pokok) tidak harus nasi (beras) tetapi makanan produk lokal lain yang dapat menggantikannya
  • Peningkatan permintaan masyarakat terhadap aneka pangan baik pangan segar,olahan maupun siap saji melalui proses internalisasi kepada seluruh komponen masyarakat termasuk aparat, yang meliputi peningkatan pengetahuan dan kesadaran gizi seimbang sejak usia dini, pengembangan kegiatan pemberdayaan ekonomi rumahtangga, dan promosi serta gerakan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal.
    • Peningkatan ketersediaan aneka ragam pangan segar dan olahan melalui pengembangan bisnis dan industry pengolahan aneka pangan sumber karbohidrat non berasdan non terigu, sumber protein nabati dan hewani, serat, vitamin dan mineral yang berbasis sumberdaya local, aman, terjangkau, dapat diterima secara sosial, ekonomi dan budaya, serta mampu menggerakkan pengembangan Usaha MikrokecildanMenengah (UMKM)
    • Penguatan dan peningkatan partisipasi Pemerintah Daerah dalam pengembangan dan pelaksanaan program penganeka ragaman konsumsi pangan berbasis sumberdaya lokal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II

JENIS SUMBERDAYA YANG DIKEMBANGKAN

 

  1. A.     Sumberdaya alam

Alam merupakan modal utama dalam pengembangan potensi. Dalam hal ini jenis sumberdaya alam yang kami kembangkan dinaranya adalah;

  • Menjaga dan melestarikan sumber-sumber air sebagai aset usaha petani dalam berbudi daya tanaman pangan (padi) dan palawija. Para petani bersama pemdes telah sepakat mengelola sumber-sumber air untuk masyarakat dan tidak akan diperbolehkan pihak lain sebagai bisnis (privatisasi)
  • Menjaga, melestarikan dan mempertahankan tanah dari perlakuan kimiawi sintetis yang berlebihan, dengan cara menciptakan pertanian organik, konservasi lahan
  • Menjaga dan mempertahankan kesegaran/kesejukan udara dari polusi dengan upaya reboisasi, pengadaan hutan rakyat dan konservasi. Mengurangi uapan gas metan yang mengganggulapisan OZON /atmosfir dengan menciptakan biogas digester, dan saat ini sudah ada beberapa penduduk yang memiliki instalasi biogas digester

 

 

 

 

 

 

 

 

                        Gambar 1 : Skema biogas digester dalam IOF (Integrated Organic Farming)

 

  1. B.     Sumberdaya manusia

Sebagai upaya pemberdayaan masyarakat dengan peningkatan SDM maka kami melakukan langkah-langkah sebagai berikut;

  • Pembentukan kelompok tani, paguyuban petani dengan melalui analisis SWOT (Streingth = kekuatan, Weakness = kelemahan, Opportunity = peluang, Treat = Ancaman) dengan rangkaian kegiatan SP (Strategik Planning) dalam menetukan isue program strategis Gambar 2: Skema Alur SP (Strategic Planning)
  • Menciptakan pertanian organik dari, oleh dan untuk petani artinya dengan pertanian organik para petani kami beri berbagai pelatihan yang antara lain:
    • Pelatihan cara pembuatan pupuk organik

 

  • Cara pembuatan pestisida alami

 

 

  • Cara penanggulangan hama terpadu dengan cara musuh alami
  • Agensi hayati
  • Pelatihan ekologi tanah
  • Pelatihan pemilihan benih padi (lokal) yang bermutu
  • Pelatihan pengolahan makanan lokal hasil pertanian oleh kelompok perempuan

 

  • Dengan melalui pertanian organik para petani tidak lagi ketergantungan dengan produk pabrikan (baik pupuk atau pestisida), karena mereka sudah dilatih dan bisa membuat pupuk, pestisida sendiri dan cara berbudidaya yang ramah lingkungan.
  • Adanya kegiatan SLPHT (sekolah lapang penganggulangan hama tanaman)
  • Mengadakan workshop, seminar dan lokakarya
  1. C.     Sumberdaya finansial

Dalam upaya mengembangkan sumberdaya sumberdaya sebagaimana di atas salah satu faktor pendukung utama adalah kerjasama dengan pihak ketiga. Adapun sumber daya finansial yang kami lakukan dengan cara;

  • Adanya iuran rutin anggota (iuran pokok, iuran wajib, iuran sukarela/tabungan dan iuran sosial) pada saat pertemuan rutin kelompok.
  • Adanya kegiatan simpan pinjam anggota kelompok dan koperasi tani (KSU Gardu Tani Al-Barokah yang berbadan hukum)
  • Kerjasama dengan pihak ketiga baik melalui dinas pemerintah terkait (program LUEP, dana talangan, dll dan juga  melaui lembaga lainnya seperti  PT Angkasa Pura, SPPQT, dll)
  • Melalui usaha jual beli/perdagangan beras organik, usaha peternakan, jasa dll yang dikelola oleh koperasi tani.
  • Dengan menciptakan usaha pelayanan / pusat pembelajaran (learning centre tehnologi pertanian organik)

 

 

  1. D.     Sumberdaya teknologi

Sedang dalam upaya pengembangan inovasi pertanian organik kami menciptaka IOF (integrated Organic Farming) dengan sistem Pertanian Organik Terpadu. Dalam pengembangan sumberdaya teknologi yang kami berikan kepada masyarakat tani dengan memfasilitasi :

  • Teknologi pengolahan limbah kotoran hewan / manusia (tinja) dengan pembuatan biogas digester.
  • Tehnologi pembuatan pupuk organik padat (bokasi,

kompos, dan hijauan daun) dengan difermentasi sendiri oleh masyarakat petani.

 

 

Gambar  Petani membuat pupuk bokasi padat sendiri

  • Tehnologi pembuatan pupuk organik cair (bioplant, bakteri

 

pengurai, pupuk hijau cair, EM4 dan sebagainya)

 

 

Gambar praktek pembuatan pupuk organik Cair

  • Tehnologi cara pemilihan benih padiorganik yang berkualitas
  • Tehnologi agensi hayati
  • Tehnologi cara mengetahui,memahami dan menangani (sifat, ciri,dan perlakuan) tanah pertanian dengan (ekologi tanah)
  • Tehnologi pembuatan makanan olahan hasil bumi (makanan lokal)

 

Gambar : Kelompok perempuan pelatihan pembuatan makanan olahan hasil pertanian

 

 

 

  1. E.     Sumberdaya sosial

Sebagai upaya pengembangan sumberdaya sosial kami menempuh dengan berbagai cara antara lain;

  • Pembentukan kelompok tani, paguyuban petani/gapoktan, dan pendirian koperasi tani yang mencerminkan adanya kerjasama sosial
  • Pertemuan rutin kelompok secara bergiliran dari anggota satu ke anggota lain (silaturrahmi) sebagai penguatan anta anggota

 

 

 

Gambar pertemuan rutin petani secara bergilir

  • Mitra kerjasama dengan berbagai pihak (network) baik kepada instansi pemerintah dinas terkait, lembaga swadaya, perguruan tinggi, lembaga pendidikan pertama / atas dll
  • Mitra kerjasama dengan bayyer dalam perdagangan hasil pertanian (distribusi) beras dan non beras (makanan lokal)
  • Bersama pemdes kerjasama pembuatan perdes tentang batas wilyah, PRA (participatory Rural Appraisal), mapping, perlindungan pemakaian bahan kimia sintetis dll.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III

DAMPAK SUMBERDAYA YANG DIKEMBANGKAN DALAM MENDORONG KETAHANAN PANGAN

  1. A.   Pelaksanaan Program dan Kegiatan dalam Pengembangan Ketahanan Pangan

a.   Ketersediaan Pangan

  • Peningkatan Produksi Pangan
    • Peningkatan mutu intensifikasi
      • Pengadaan fasilitasi bantuan benih bermutu (padi organik) kepada petani dengan sistem yarnen (bayar panen)
      • Pengadaan fasilitasi alsintan
      • Memfasilitasi pupuk organik dan pestisida alami kepada petani dengan sistem yarnen
      • Pengadaan tanaman selingan/sampingan selain tanaman pangan pokok
      • Pendampingan intensif pada petani (problem solving)
      • Perluasan areal tanam ekstensifikasi
        • Pemanfaatan lahan tidur
        • Membuka lahan baru yang produktif
        • Penganekaragaman tanaman pangan
        • Pengembangan Cadangan Pangan
          • Penguatan kembali sistem pola lumbung
            • Lumbung pangan/paceklik
            • Lumbung pengolahan
            • Lumbung pemasaran
            • Lumbung pupuk, benih dan pestisida
            • Sosialisasi dan anjuran tanaman pangan non beras (penganekaragaman tanaman pangan)

 

b.   Distribusi Pangan

  • Stabilisasi Harga dan Pasokan Pangan
    • Produk pangan organik dapat meningkatkan nilai jual di pasaran terutama jika diditribusikan di kota-kota besar, sehingga petani diuntungkan disamping harga diatas rata-rata standar, kebutuhan konsumsi terpenuhi dan sangat aman bagi kesehatan.
    • Harga pangan (beras) organik langka mengalami fluktuasi harga /penurunan. Lebih sering naik walau kenaikan sedikit tetapi kenaikan yang kontinuitas.

 

Ganbar beras organik Al-Barokah siap dikirim ke distributor

  • Dengan sistem padi organik stabilitas pasokan (mendatangkan) pangan di lokal kami sangat jarang terjadi karena cukup bahkan lebih yang didistribusikan ke daerah lain sehingga kebutuhan konsumsi pangan cukup tersedia dan aman.

c.    Konsumsi dan Keamanan Pangan

  • Pengembangan Konsumsi dan Keamanan Pangan
    • Melalui program pertanian (padi) organik masyarakat tani yang kami fasilitasi dalam upaya ketahanan pangan, selain produk utama beras organik juga produk anekatanaman lain sebagai pendukung konsumsi beras disamping tersedia juga aman dari residu yang membahayakan kesehatan, sehingga aman untuk dikonsumsi.
    • Pengembangan Teknologi Pengolahan Pangan
      • Dalam upaya pengembangan teknologi pengolahan makanan hasil pertanian disamping menanam tanaman non beras juga kami memberi pelatihan tehnologi pengolahan limbah dari produk utama beras organik (diversifikasi produk/usaha) seperti (menir beras dijadikan tepung beras organik disamping harga menjanjikan lebih aman untuk anak balita. Dan ada tehnologi pengolahan katul dari beras organik yang harganya berlipat-lipat ganda dan bermanfaat bagi kesehatan
      • Peningkatan dan pengembangan inovasi tehnologi pengolahan hasil pertanian non beras yang menjadi aktifitas perempuan / ibu-ibu petani.(makanan olahan) sesuai potensi lokal (ceriping ketela, kimpul, gadung, dan makanan siap saji lainnya)
      • Pemberian Makanan Tambahan
        • Kami menempuh sosialisasi dan pengenalan terhadap produk makanan lokal hasil pertanian yang lebih murah, tersedia dan aman untuk dikonsumsi.
        • Sosialisasi dampak terhadap kesehatan manusia dan lingkungan dari makanan produk pabrikan.
        • Membiasakan pada setiap pertemuan-pertemuan/even-even selalu menyajikan makanan produk lokal
        • Membiasakan makan makanan produk lokal sebagai makanan tambahan diluar makanan pokok beras dan makanan berkalori lainnya

3.  Pengembangan dan Peningkatan Sarana dan Prasarana

a.  Pengembangan jaringan infrastruktur

  • Pengadaan jalan baru (tembus) dan perbaikan jalan transportasi pertanian, ekonomi masyarakat dengan melalui kerja bhakti (gugur gunung) di lingkungan secara bersama

b.  Pengembangan Sarana Pertanian

  • Pengadaan alsintan (traktor, Ricemile, pedal treasur, tangki spray, dll

c.  Pengembangan Permodalan

  • Kerjasama dengan pihak ketiga baik melalui dinas pemerintah terkait (program LUEP, dana talangan, dll dan juga  melaui lembaga lainnya seperti  PT Angkasa Pura, SPPQT, dll)
  • Terwujudnya fasilitasi iuran rutin anggota (iuran pokok, iuran wajib, iuran sukarela/tabungan dan iuran sosial) pada saat pertemuan rutin kelompok.
  • Adanya kegiatan simpan pinjam anggota kelompok dan koperasi tani (KSU Gardu Tani Al-Barokah yang berbadan hukum)
  • Mitra kerjasama dengan lembaga swadaya KRKP sebagai upaya peningkatan usaha beras organik

 

d.   Pengembangan Cadangan Pangan Masyarakat

  • Membangunkan kembali dan penguatan kembali sistem pola lumbung sesuai yang kami fasilitasi adalah diantaranya pendirian Lumbung pangan/paceklik, Lumbung pengolahan, lumbung pemasaran
  • Penyediaan dan mengembangkan lumbung pupuk, benih dan pestisida
  • Sosialisasi, saran dan anjuran penanaman keanekaragaman tanaman
  • Pemanfaatan pekarangan dengan semaksimal mungkin

 

4.  Pengembangan SDM Pertanian dan Ketahanan Pangan

Upaya yang kami tempuh dengan mengadakan pelatihan-pelatihan cara pembuatan pupuk organik, cara pembuatan pestisida alami, cara penanggulangan hama terpadu dengan cara musuh alami, Agensi hayati, diselenggarakannya, pelatihan pengolahan makanan lokal hasil pertanian oleh kelompok perempuan, workshop, seminar dan sekolah lapang serta magang.

 

5.  Penanganan Rawan Pangan

  • Jika terjadi kerawanan pangan di daerahnya dan atau sekitar kita maka perlu adanya cadangan pangan yang cukup sebagai arus distribusi pangan melalui dana sosial dan atau sumbangan cuma-cuma secara bersama kepada daerah rawan pangan/bencana untuk kelangsugan hidup.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IV

PENGHARGAAN YANG PERNAH DITERIMA

 

  1. Piagam penghargaan sebagai nara sumber

(Foto Copy Bukti terlampir)

 

  1. Piagam penghargaan lainnya
  2. Photo photo kegiatan
  3. D.    lampiran – lampiran
  4. G.   Mustofa (tokoh petani Al-Barokah) bersalaman dengan Presiden RI di Istana Negara setelah menerima penghargaan atas prestasinya dalam upaya Pengembangan Ketahanan Pangan Melalui Pengembangan Agribisnis pangan tanggal 9 Desember 2004
  5. J.    Mustofa (tokoh petani Al-Barokah) bersalaman dengan
  6. K.   Mentri Pertanian RI di Auditorium Dep. Pertanian setelah menerima
  7. L.    Penghargaan Ketahanan Pangan Tingkat Nasional
  8. M.   Tahun 2004
  9. R.   Mustofa (ketua petani Al-Barokah) menerima piala dari 
  10. S.   Bp. Dirjen Tanaman Pangan atas Prestasinya dalam upaya Pengembangan Ketahanan Pangan Tingkat Nasional
  11. T.   Tahun 2004
  12. U.    
  13. X.   Mustofa (ketua petani Al-Barokah) menerima Piagam Penghargaan dari
  14. Y.   Bp. Gubernur Jaa Tengah atas Prestasinya dalam upaya Pengembangan Ketahanan Pangan Melalui Agribisnis pangan Tingkat Propinsi
  15. Z.    Tahun 2004
  16. CC.               Mustofa foto berama Bp. Gubernur Jateng setelah menerima Piagam Penghargaan SATYA BHAKTI UPA KRIDA Pertanian Organik
  17. DD.               Tahun 2008
  18. HH.
  19. KK.               Mustofa foto bersama Bp. Dirjen Tanaman Pangan setelah mengikuti seminar nasional dalam peringatan Hari Pangan Sedunia di Yogyakarta
  20. PP.               
  21. QQ.               Mustofa disaat menyampaikan materi Membiaakan Kita Mengkonsumsi Makanan Lokal di Kabupaten Batang Jawa Tengah Tahun 2009
  22. UU.              
  23. Mustofa sedang menawarkan produk beras organik Al-Barokah kepada Buyyer di Pasar Lelang Forward Komoditi Agro Suropadan Jateng

ZZ.Mustofa bersama kementrian ristek, dipertan prop jateng sebagai nara sumber dalam acara Workshop Pengembangan Pertanian amah Lingkungan di Desa Ketapang Kec. Susukan Kab. Semarang Jawa Tengah

  1. AAA.             
  2. BBB.            
  3. Mustofa sebagai nara sumber dalam acara seminar Nasional Pentingnya Lumbung Komunitas di Yogyakarta
  4. GGG.          
  5. HHH.           Produk Beras Organik Al-Barokah yang siap di kirim ke Jabotabek
  6. LLL.            
  7. MMM.          Beberapa Foto Piala atas Prestasinya dan
  8. produk Beras Organik Al-Baroka
  9. PPP.           
  10. QQQ.           Mustofa bersama dinas-dinas terkait Prop. Jateng sedang mengadakan kunjungan dinas dan berdiskusi di sekretariat Al-Barokah
  11. UUU.          
  12. VVV.            Mustofa  sedang mengadakan diskusi pangan bersama para petani dan perangkat desa dalam pertemuan rutin kelompok tani
  13. di aula Al-Barokah
  14. ZZZ.             Mustofa sedang menjelaskan alur dan sistem kerja Biogas digester kepada dinas terkait di lokasi reaktor biogas digester Al-Barokah
  15. CCCC.       Mustofa mendampingi Bp. Wakil Gubernur Banten beserta Stafnya
  16. DDDD.       di saat kunjungan kerja di Al-Barokah Desa Ketapang Kec. Susukan Kab. Semarang Jawa Tengah

 

(terlampir)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

V

.DOKUMENTASI KEPELOPORAN DALAM PEMBANGUNAN KETAHANAN PANGAN

 

(dalam bentuk photo/CD Film, sebagaimana tertera dalam profil ini).

 

 

 

lampiran – lampiran

Mustofa (tokoh petani Al-Barokah) bersalaman dengan Presiden RI di Istana Negara setelah menerima penghargaan atas prestasinya dalam upaya Pengembangan Ketahanan Pangan Melalui Pengembangan Agribisnis pangan tanggal 9 Desember 2004

Mustofa (tokoh petani Al-Barokah) bersalaman dengan

Mentri Pertanian RI di Auditorium Dep. Pertanian setelah menerima

Penghargaan Ketahanan Pangan Tingkat Nasional

Tahun 2004

Mustofa (ketua petani Al-Barokah) menerima piala dari 

Bp. Dirjen Tanaman Pangan atas Prestasinya dalam upaya Pengembangan Ketahanan Pangan Tingkat Nasional

Tahun 2004

 

Mustofa (ketua petani Al-Barokah) menerima Piagam Penghargaan dari

Bp. Gubernur Jaa Tengah atas Prestasinya dalam upaya Pengembangan Ketahanan Pangan Melalui Agribisnis pangan Tingkat Propinsi

Tahun 2004

Mustofa foto berama Bp. Gubernur Jateng setelah menerima Piagam Penghargaan SATYA BHAKTI UPA KRIDA Pertanian Organik

Tahun 2008

Mustofa foto bersama Bp. Dirjen Tanaman Pangan setelah mengikuti seminar nasional dalam peringatan Hari Pangan Sedunia di Yogyakarta

Mustofa disaat menyampaikan materi Membiaakan Kita Mengkonsumsi Makanan Lokal di Kabupaten Batang Jawa Tengah Tahun 2009

Mustofa sedang menawarkan produk beras organik Al-Barokah kepada Buyyer di Pasar Lelang Forward Komoditi Agro Suropadan Jateng

Mustofa bersama kementrian ristek, dipertan prop jateng sebagai nara sumber dalam acara Workshop Pengembangan Pertanian amah Lingkungan di Desa Ketapang Kec. Susukan Kab. Semarang Jawa Tengah

 

 

Mustofa sebagai nara sumber dalam acara seminar Nasional Pentingnya Lumbung Komunitas di Yogyakarta

Produk Beras Organik Al-Barokah yang siap di kirim ke Jabotabek

Beberapa Foto Piala atas Prestasinya dan

produk Beras Organik Al-Baroka

Mustofa bersama dinas-dinas terkait Prop. Jateng sedang mengadakan kunjungan dinas dan berdiskusi di sekretariat Al-Barokah

Mustofa  sedang mengadakan diskusi pangan bersama para petani dan perangkat desa dalam pertemuan rutin kelompok tani

di aula Al-Barokah

Mustofa sedang menjelaskan alur dan sistem kerja Biogas digester kepada dinas terkait di lokasi reaktor biogas digester Al-Barokah

Mustofa mendampingi Bp. Wakil Gubernur Banten beserta Stafnya

di saat kunjungan kerja di Al-Barokah Desa Ketapang Kec. Susukan Kab. Semarang Jawa Tengah

 

 

 

 

 

 

 

 

http://globalbusiness.bloggingzone.info/ View site »